Analis: Peraturan NIM masih mempengaruhi market

Selasa, 23 Februari 2016 / 09:43 WIB

JAKARTA. Pergerakan pasar saham dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen ekonomi domestik dan juga dari eksternal.
Lana Soelistianingsih, Ekonom Samuel Sekuritas mengatakan rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan peraturan terkait insentif yang akan diberikan kepada bank yang mampu menurunkan Net Interest Margin (NIM) akan mempengaruhi pergerakan pasar.
OJK akan keluarkan peraturan terkait insentif bagi bank yang mampu menurunkan NIM melalui kemudahan membuka cabang dan kemudahan membuat produk. "Insentif ini dimaksudkan untuk membuat bank menjadi lebih kompetitif dan efisien," jelas Lana dalam riset yang diterima KONTAN, Selasa (23/2).
Rata-rata NIM perbankan Indonesia 5,3% sedangkan NIM di negara-negara Asean sekitar 2%-3%. Penurunan NIM tidak serta merta berasal dari aspek mikro perbankan tetapi juga aspek makro terutama inflasi yang menjadi penentu suku bunga riil.
Sementara, sentimen dari eksternal datang dari melemahnya indeks manufaktur AS. PMI AS turun dari 52,4 pada bulan Januari menjadi 51 pada bulan Februari. Penurunan ini di antaranya karena melambatnya ekspor AS akibat penguatan dollar dan masih lemahnya permintaan dari negara mitra dagang AS.
The Fed khawatir, ekonomi AS akan melambat sehingga bisa mempengaruhi outlook ekonominya 2016. Meskipun tingkat inflasinya bagus, namun Lana melihat perlambatan ini bisa membuat the Fed menunda kenaikan suku bunga tahun ini.
Lana memperkirakan, nilai tukar rupiah hari ini berpotensi menguat di kisaran Rp 13.400-Rp 13.430, bahkan bisa menembus bawah Rp 13.400.

0 Response to "Analis: Peraturan NIM masih mempengaruhi market"

Posting Komentar