Keberkahan Umur; Mengenang 67 Tahun Syahidnya Imam Al-Banna

Sabtu, 13 Februari 2016

Keberkahan Umur;
Mengenang 67 Tahun Syahidnya Sang Imam
(12 Februari 1949 - 12 Februari 2016)

Oleh: Oktarizal Fiardi

Setiap orang memiliki kesempatan hidup yang berbeda-beda. Di antara manusia ada yang Allah berikan usia yang panjang. Bahkan tak jarang, ada yang usianya melewati angka seratus. Dan yang hanya diberi kesempatan hidup terbatas dengan usia yang singkat jumlahnya juga tidak sedikit. Bahkan ada yang ketika masih bayi harus rela berpisah dengan kehidupan.

Panjang atau pendeknya usia bukanlah standar keberhasilan dalam menjalani lika-liku hidup. Sebagian orang yang dikaruniakan usia panjang ada yang tidak mampu berbuat apa-apa. Setelah meninggal, dia dilupakan begitu saja. Tidak ada kenangan yang ditinggalkan untuk generasi yang datang setelahnya.
  
Manusia paling beruntung adalah mereka yang mampu memanfaatkan usianya untuk melakukan kerja-kerja besar. Mampu meninggalkan berbagai kenangan untuk generasi setelahnya. Mampu mewariskan karya-karya monumental untuk mereka yang datang di kemudian hari.

Untuk menjadi manusia yang dikenang dan diabadikan sejarah, umur yang panjang bukanlah syarat utama. Sejarah telah mencatat, banyak mereka yang usianya tidak panjang tapi mampu melahirkan karya-karya besar. Mampu menghadirkan hentakan-hentakan dalam perjalanan sejarah.
  
Satu dari sekian banyak manusia hebat yang mampu berprestasi dengan usia yang sangat terbatas adalah Imam Syahid Hasan al Banna. Allah telah anugerahkan kepadanya keberkahan umur. Terlahir pada 14 Oktober 1906 dan meninggal pada 12 Februari 1949. Usianya hanya 43 tahun. Atau lebih tepatnya 42.5 tahun. Tahun ini, tepat 67 tahun berlalu sejak beliau mencapai cita-cita tertingginya; syahid di jalan Allah.
  
Dengan usia yang tidak sampai setengah abad, Imam Hasan al Banna telah memberikan sumbangsih yang sangat besar untuk dunia Islam. Beliau telah meninggalkan warisan yang sangat berharga untuk umat Islam. Warisan berharga yang beliau tinggalkan itu bernama Ikhwanul Muslimin. Hampir tidak ada kaum muslimin yang tidak mengenal Ikhwanul Muslimin. Ketika disebutkan Ikhwanul Muslimin, ingatan kita akan langsung tertuju kepada sang pendiri, Imam Syahid Hasan al Banna.

Agar mampu meninggalkan pengaruh dalam kehidupan bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan kerja keras,  semangat yang tidak pernah padam, jiwa yang selalu menggelora. Dan tentunya tak bisa terlepas dari taufik Allah.

Mencermati kehidupan Imam Hasan al Banna, minimal ada 5 kelebihan yang menghiasi pribadinya sehingga usia beliau begitu berkah. Beliau mampu menghadirkan karya besar dalam keterbatasan usianya.

1. Ruhiyah yang tinggi disertai keikhlasan dalam amal

Nilai-nilai ruhiyah (spritual) tidak bisa dipisahkan dari perjalanan hidup para tokoh. Nilai spritual memiliki andil yang sangat besar dalam mengarahkan hidup setiap orang. Tak terkecuali Imam Hasan al Banna. Beliau terkenal sebagai sosok laki-laki yang sangat relijius. Memilki ruhiyah yang sangat tinggi dan selalu berusaha untuk bertaqarrub kepada Allah.

Diceritakan oleh Ustadz Umar Tilmisani, suatu ketika, beliau menemani Imam Hasan al Banna menghadiri muktamar di Manzilah, Daqahliyah. Setelah muktamar selesai dan waktu tidur tiba, mereka berdua menuju kamar tidur yang memiliki dua ranjang. Keduanya merebahkan diri di tempat tidurnya masing-masing.

Setelah beberapa saat, Imam Hasan Al-Banna berkata, “Apakah engkau sudah tidur, wahai Umar?”
Ustadz Umar Tilmisani menjawab, “Belum.”
Beberapa saat kemudian, pertanyaan itu terulang lagi dan jawaban yang sama pun terulang.
Ustadz Umar Tilmisani berkata dalam hati, “Apabila beliau bertanya lagi, maka tidak akan saya jawab.”

Imam Hasan Al-Banna menyangka Ustadz Umar Tilmisani telah tidur. Maka beliau keluar dari kamar dengan mengendap-ngendap sambil menenteng sandalnya. Beliau menuju kamar mandi untuk memperbarui wudhu. Setelah itu menuju ke ujung ruangan, kemudian menggelar sajadah, lalu melaksanakan shalat tahajud.

Mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai amalan sunnah sudah menjadi karakter yang tertanam kokoh dalam diri Imam al Banna. Dalam kondisi apapun beliau selalu berusaha untuk tahajjud di malam hari. Betapun padat dan banyaknya aktifitas yang dilakukan pada siang hari tak pernah menghalanginya untuk tetap berkomunikasi dengan Allah lewat tahajjud.
  
Kisah yang dituturkan Ustadz Umar Tilmisani, selain menunjukkan tingginya ruhiyah Imam Hasan al Banna, juga mengisyaratkan betapa Imam Hasan al Banna selalu berusaha untuk menjaga keikhlasan dalam setiap amalnya. Beliau berusaha menyembunyikan amalan-amalannya dari pandangan manusia. Beliau berkeyakinan, meskipun tidak ada makhluk yang menyaksikan amalannya, Allah pasti selalu menyaksikan kebaikan yang dilakukan hamba-Nya.
  
Terkait dengan makna keikhlasan, beliau pernah menjelaskan, “Yang saya maksud dengan ikhlas adalah seorang al-akh hendaknya mengorientasikan perkataan, perbuatan dan jihadnya kepada Allah; mengharap keridhaan-Nya dan memperoleh pahala-Nya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan atau kemunduran. Dengan itulah ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan yang hanya mencari manfaat dunia. “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. al-An’am:162). Dengan begitu, seorang Al-akh telah memahami makna slogan abadinya: “Allah tujuan kami”.

2. Memilki sikap optimis dan keyakinan yang kuat

Menelisik perjalanan hidup Imam Hasan al Banna, sikap optimis dan yakin akan pertolongan Allah seakan-akan tidak bisa dipisahkan dari kepribadian beliau. Sikap putus asa seolah-olah tidak menemukan jalan untuk masuk ke relung hatinya. Selalu optimis dalam setiap keadaan.
  
Sikap optimis yang dimiliki Imam Hasan al Banna tergambar sangat jelas dalam memoar beliau sebagai seorang aktifis dakwah. Dalam satu kesempatan, beliau mengajak teman-temannya untuk berdakwah di kedai-kedai kopi. Teman-temannya merasa aneh dengan ajakan untuk berdakwah di kedai-kedai kopi. Mereka besikap skeptis dan tidak yakin untuk berdakwah di hadapan orang-orang yang dalam pandangannya jauh dari nilai-nilai agama. Meskipun teman-temannya tidak setuju, Imam Hasan al Banna tetap melanjutkan idenya. Berdakwah di kedai-kedai kopi. Dengan pemilihan judul yang tepat dan kata-kata-kata yang tidak menyakiti para pendengar, dakwah beliau berujung dengan kesuksesan. Bahkan para pengunjung kedai kopi meminta beliau untuk mengisi pengajian rutin.

3. Sungguh-sungguh dan disiplin

Sikap sungguh-sungguh sudah menjadi cerminan dalam kehidupan Imam Syahid. Beliau tidak mengenal kata lelah dalam berdakwah. Dakwah selalu seiring sejalan dengan nafas beliau. Dakwah adalah nafasnya. Dalam setiap desahan nafasnya terkandung nilai-nilai dakwah. Seluruh gerak dan aktifitasnya beliau persembahkan untuk dakwah. Bahkan diam dan istirahatnya pun juga untuk dakwah.

Mursyid kedua, Ustadz Umar Tilmisani pernah bercerita dalam suatu kesempatan. “Suatu hari, saya dan beberapa orang ikhwah, ikut dengan Imam Hasan al Banna ke Thanta untuk memenuhi undangan peresmian masjid di sana. Pada hari itu, jadwal kami padat dengan agenda-agenda dakwah sehingga mengharuskan kami menginap di Thanta. Menjelang subuh kami berangkat ke stasiun kereta api jurusan Thanta-Kairo dan kami shalat subuh di sana. Sampai di Kairo, kami pulang ke rumah masing-masing untuk melanjutkan istirahat. Kecuali Imam Hasan al Banna, beliau pergi ke sekolah tempatnya mengajar untuk menyampaikan pelajaran di jam pertama.”

4. Kemuliaan akhlak

Rasul adalah teladan kami. Kata-kata ini benar-benar terpatri dalam diri Imam Hasan al Banna. Akhlak mulia RasuluLllah Saw. begitu tercermin dalam keseharian dan dakwahnya. Beliau sangat menyadari, keindahan akhlak dan keluhuran budi pekerti memiliki daya pikat yang kuat untuk mengajak orang mengenal dakwah Islam lebih dekat. Ini yang beliau terapkan dalam kehidupannya. 

Pernah suatu kali, salah seorang ikhwah, mendaftarkan diri untuk ikut bergabung dalam rombongan Mujahidin yang akan berjihad di Palestina. Sang ayah mengira Imam Hasan al Banna telah memprovokasi anaknya. Dia pun mendatangi kantor pusat Ikhwan dalam keadaan marah dan melontarkan kata-kata kasar kepadanya. Imam Hasan al  Banna sangat memahami perasaan sang ayah, beliau hanya diam dan tidak memberikan komentar apapun menaggapi kemarahan tamunya. Ketika hendak meninggalkan kantor pusat Ikhwan, sang ayah yang matanya sudah rabun tidak menemukan sepatunnya. Seketika beliau kaget, Imam Hasan al Banna sudah berada di hadapannya dengan membawa sepatu dan meletakkannya di kedua kakinya. Spontan sang ayah berucap, “Imam Hasan al Banna telah menuangkan air yang sejuk ke dada saya.” Segala kemarahan yang dibawanya sejak mendatangi kantor Ikhwan langsung hilang dengan kemuliaan akhlak Imam Hasan al Banna.

Imam al Banna pun pernah mengatakan, “Kita akan perangi musuh-musuh kita dengan menebarkan benih-benih cinta.”

5. Semangat amar ma’ruf nahi munkar

Imam Hasan al Banna sangat menyadari, kunci keberhasilan generasi awal umat Islam terletak dalam semangat amar ma’ruf nahi munkar yang mereka milki. Tanpa semangat amar ma’ruf nahi munkar, umat Islam tidak akan pernah meraih gelar sebagai umat terbaik.

Semangat amar ma’ruf nahi munkar sudah tertanam dalam diri Imam Hasan al Banna sejak beliau kecil. Dalam memoarnya, beliau menceritakan tentang Hasan al Banna kecil,

“Suatu hari di Mahmudiah, saya berjalan-jalan di tepi sungai Nil. Di sepanjang sungai, khususnya di perlintasan Mahmudiah, ditemukan banyak sekali pembuat kapal layar. Tiba-tiba saya melihat seorang pembuat kapal yang menggantung patung perempuan telanjang yang terbuat dari kayu di atas tiang kapalnya. Hal ini melukai perasaan saya. “Ini jelas melanggar moral dan etika. Apalagi di tempat itu banyak sekali perempuan yang pulang dan pergi mengambil air di sungai,” kenangnya.

Maka, saya pun pergi menemui aparat pemerintahan setempat dan melaporkan hal tersebut kepadanya. Akhirnya, sang aparat datang menemui pemilik kapal dan memberikan teguran. Kemudian memintanya untuk menurunkan patung telanjang tersebut saat itu juga.

Keesokan harinya, karena aparat itu merasa kagum dengan apa yang saya lakukan, ia pergi ke sekolah dan menemui kepala sekolahnya. Karena KepaIa sekolah pun begitu kagum dan terpesona dengan keberanian siswanya, beliau pun menceritakan kejadian tersebut di hadapan seluruh siswa ketika apel pagi.”

Hari ini, Imam Hasan al Banna tidak lagi ada bersama kita. Tapi, warisan pemikiran, semangat dakwah dan kemuliaan akhlak beliau akan selalu hadir menemani hari-hari kita. Dalam sebuah pesannya kepada para pemuda, beliau menyampaikan, “Sesungguhnya sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya.”[]

0 Response to " Keberkahan Umur; Mengenang 67 Tahun Syahidnya Imam Al-Banna "

Posting Komentar