Terbesar di ASEAN, BCA kalahkan DBS


Jakarta. Bank lokal kita mulai unjuk gigi di kancah regional.
PT Bank Central Asia (BCA) Tbk menggusur DBS Group Holdings Ltd. dari posisi puncak untuk nilai kapitalisasi pasar saham terbesar di wilayah Asia Tenggara.
Kemarin, Bloomberg melaporkan, kapitalisasi pasar emiten bersandi saham BBCA itu sekarang mencapai US$ 24,5 miliar, tertinggi sekawasan.
Sebaliknya, DBS yang mewakili keperkasaan sistem keuangan Singapura, kapitalisasi pasar sahamnya terpuruk di bawah US$ 24 miliar.
Harga saham BBCA memang bergerak relatif stabil sejak awal tahun 2016.
Meski, pada penutupan pasar kemarin, harga saham bank milik Grup Djarum ini turun 0,56% dari hari sebelumnya ke posisi Rp 13.275 per saham.
Jika dihitung dari akhir tahun 2015 lalu, saham BCA turun sebesar 0,18%.
Berbeda dengan DBS, yang sahamnya tertekan dalam.
Bahkan, Jumat (12/2), harga saham DBS mendarat di level S$ 13,03 per saham, menempatkannya ke posisi terendah sejak 8 Juni 2012 silam saat di posisi S$ 13,05 per saham.
Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, mengatakan, saham banknya memang bergerak cukup stabil, kala DBS membukukan penurunan.
"Kiat kesuksesan kami adalah, kami fokus kepada growing market yang menjanjikan, yaitu di negeri kita sendiri," tandas Jahja kepada KONTAN.
Oleh sebab itu, Jahja menegaskan, BCA sangat siap menghadapi persaingan dengan bank asing di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sektor perbankan yang berlaku tahun 2020 mendatang.
Laman www.channelnewsasia.com kemarin menuliskan, kapitalisasi pasar saham DBS anjlok hingga 37,8% sejak Agustus tahun 2015 lalu.
Pada periode yang sama, kapitalisasi pasar saham BBCA justru tumbuh sebesar 18,6%.
Menanggapi keunggulan BBCA dari sisi kapitalisasi pasar saham, juru bicara DBS Group yang tidak disebutkan namanya menyatakan, bank DBS bakal berusaha mempertahankan dominasinya di kawasan Asia Tenggara, dari segi aset serta laba.
"Kapitalisasi pasar yang didorong fluktuasi harga saham tidak selalu mencerminkan perkembangan bisnis utama kami," kilahnya ke Channel News Asia.
Hanya Bank Central Asia juga tidak tinggal diam.
Itu berarti, persaingan di kancah regional bakal semakin sengit.
Untuk memenangkan pasar dalam negeri, salah satu strategi BCA adalah ikut menggarap Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Bank swasta yang berdiri sejak tahun 1957 ini juga sedang mempertimbangkan bisis perpanjangan tangan kredit atawa channeling.
Dengan skema ini, BCA bakal menyalurkan KUR melalui mitra, semisal Bank Perkreditan Rakyat (BPR).
Jahja sebelumnya pernah mengungkapkan, ketertarikan untuk menyalurkan KUR sejalan dengan kondisi likuiditas BCA yang berlimpah.
Meski ingin ikut serius menggelontorkan kredit berbunga 9% per tahun ini, BCA sejatinya nihil pengalaman di segmen kredit mikro.
Maklum, tahun ini adalah pertama kali BCA menyalurkan KUR.
Alhasil, BCA tidak memiliki infrastruktur yang mumpuni untuk menjangkau para calon nasabah KUR yang merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Atas dasar itulah, skema channelling dengan BPR menjadi opsi unggulan untuk menyalurkan KUR tahun ini.
"Kami belum ada infrastruktur. Jadi, kalau boleh, kami salurkan KUR dalam bentuk channelling. Yang penting buat kami, hasilnya ada," ujar Jahja.

0 Response to "Terbesar di ASEAN, BCA kalahkan DBS"

Posting Komentar