Menteri Agama Angkat Bicara tentang Syiah

November 2014, sebuah ormas bernama Ahlulbait Indonesia menggelar muktamar kedua mereka di Auditorium KH. M. Rasjidi, Kementerian Agama. Tak senang, kelompok intoleran melalui media-medianya mengecam. Mereka mempertanyakan sikap Menteri Agama dan menaruh curiga jika lembaga yang dipimpinnya telah diperalat. Padahal dalam beberapa kali kesempatan, menteri sudah menegaskan bahwa posisi Menteri Agama adalah menteri bagi semua agama, termasuk yang minoritas.[1]
Upaya ormas yang sama untuk menjelaskan sikap dan posisinya melalui buku juga disambut baik. Bahkan, menteri bersedia untuk memberikan pandangannya mengenai buku berjudul Syiah Menurut Syiah yang kemudian tertuang dalam kata pengantar. Menteri menilai perbedaan pandangan di kalangan umat Islam adalah suatu hal yang wajar dan harus disikapi secara adil, bukan saling menyalahkan namun justru saling melengkapi khazanah pengetahuan tentang Islam dan keindonesiaan, sekaligus menguatkan tali persatuan dan persaudaraan melalui perbedaan.
Wawancara dengan VIVA.co.id, Lukman Hakim Saifuddin, yang juga merupakan putra dari Menteri Agama ke-9, Saifuddin Zuhri, kembali menjelaskan sikap dan pandangannya tentang Syiah. Pandangannya ini tidak hanya penting bagi umat Islam pada umumnya tetapi juga bagi para pengikut Syiah di Indonesia. Berikut petikan wawancaranya:[2]
Lukman Hakim Saifuddin
Saat ini sentimen anti-Syiah menguat. Tanggapan Anda?
Bagaimana pun juga ini menyangkut keragaman paham keagamaan Islam. Di dalam Islam tidak dipungkiri ada beragam paham keagamaan, dalam hal teologi, dalam hal fikih, tasawuf. Ada suni, ada Syiah. Itu bagian realitas umat Islam sejak awal. Syiah ada sejak zaman sahabat. Ini bukan barang baru, sejak zaman Abu Bakar dan seterusnya sudah ada.
Sebenarnya bagaimana sejarah dua paham ini di Indonesia?
Di Indonesia zaman dahulu kita tidak pernah mendengar perseteruan ini. Baru belakangan saja. Hemat saya, umat Islam Indonesia jangan terkecoh kemudian masuk ke friksi yang semakin menajam antarumat Islam itu sendiri. Jadi bagaimana pun juga umat Islam Indonesia, ahlusunah yang jadi paham mayoritas Islam Indonesia adalah penuh toleran, moderat, yang berimbang dalam melihat persoalan, tidak ekstrim.
Tapi penuh toleransi, damai, kasih sayang, yang rahmatan lil alamin. Itu yang ratusan tahun yang lalu diperkenalkan, disebarluaskan Wali Songo dan pendahulu kita. Islam yang seperti itu. Bukan yang hitam putih dalam melihat persoalan, yang mudah menyalah-nyalahkan, yang mudah mengkafir-kafirkan. Bukan seperti itu karakter umat Islam Indonesia yang pahamnya ahlusunah waljemaah.
Lalu bagaimana pandangan Anda dengan Syiah?
Dalam melihat perbedaan terhadap Syiah tidak harus selalu seakan-akan ini ancaman atau musuh luar biasa. Tapi dari pihak Syiah juga harus diberi pengertian bahwa mayoritas umat Islam di Indonesia itu suni yang sangat hormat terhadap sahabat. Sementara ada sebagian aliran atau paham dalam Syiah yang sangat tidak setuju dengan sahabat. Bahkan lebih jauh dianggap tidak ada, atau disalah-salahkan, yang ini kemudian di lapangan menimbulkan konflik. Karena menurut ahlusunah, sahabat itu sangat dihormati selain Rasulullah.
Karenanya, teman-teman Syiah juga harus sadar diri bahwa mayoritas umat Islam Indonesia yang ahlusunah sangat menghormati sahabat. Jadi jangan menghina, melecehkan sahabat karena itu bisa melukai hati sesama saudara muslim. Jadi kesadaran untuk saling bertenggang rasa semakin diperlukan.
Caranya?
Itu tadi, harus dibangun kesadaran bertenggang rasa, bertoleransi. Caranya, lebih mengedepankan substansi Islam. Islam itu maknanya salam, keselamatan, kedamaian, memanusiakan manusia. Islam hadir sebagai nilai untuk membuat semua alam semesta sejahtera, untuk saling menebarkan kemaslahatan. Sehingga segala upaya yang justru sebaliknya, membuat manusia rendah harkatnya, martabatnya, apalagi saling menumpahkan darah sesama, itu pasti bukan ajaran Islam. Itu yang harus dihindari dari Islam.
Jadi kesadaran seperti ini, lebih mengedapankan esensi ajaran Islam. Bukan justru berbeda kemudian perbedaan itu dijadikan pijakan, atau dasar untuk saling menafikan di antara kita. Perbedaan itu harus dijadikan cara, bahwa itulah Allah memberikan berkah karena justru keragaman ini antar kita yang terbatas bisa saling melengkapi, mengisi.
Bagaimana posisi pemerintah terkait keberadaan Syiah?
Kementerian Agama sebagai bagian dari pemerintah tidak dalam posisi menentukan, apakah paham ini baik atau buruk, benar atau salah. Kita bukan dalam posisi untuk menilai. Apalagi ini kafir atau bukan. Biarkan itu jadi kewenangan ulama yang ada di NU, Muhammadiyah, MUI untuk menyikapi keragaman perbedaan paham ini. Saya pribadi menghendaki, selama perbedaan bukan prinsipil tidak ada alasan untuk saling menegasikan atau menafikan satu sama lain. Perbedaan itu given saja, sunatullah.
Artinya, Syiah merupakan bagian dari Islam?
Saya mengacu pada hasil deklarasi yang dikeluarkan Konferensi Islam International di Yordania, 4-6 Juli 2005[3] yang kemudian ditegaskan lagi pada sidang ke-17 OKI di Yordania pada Juni 2006. Di situ dinyatakan bahwa Syiah itu macam-macam, sama seperti di ahlusunah. Sebagian dari aliran Syiah dianggap masih bagian dari Islam seperti, Jafari, Zaidiah. Bahkan sampai tahun lalu umat Syiah seperti Iran dan negara lain masih berhaji di Mekah dan Madinah. Saudi anggap mereka bagian saudara muslim. Jadi itu bisa jadi pegangan kita bahwa perbedaan itu tidak perlu jadi cara kita saling menegasikan.
Kalau menurut Anda?
Pandangan saya seperti ini, tolong diluruskan, selama ini saya sering disalahpahami bahwa saya Syiah, karena terlalu membela Syiah. Sebenarnya saya tidak bela Syiah. Saya hanya menjelaskan yang sesungguhnya. Harapan saya ke depan bagaimana umat Islam meski berbeda tidak saling menafikan. Karena terus terang saya khawatir kalau tidak bangun kesadaran seperti itu, peristiwa di Irak atau Suriah bisa juga terjadi di sini. Sesama muslim sama-sama meneriakkan takbir tapi saling menumpahkan darah. Itu tidak terbayangkan terjadi di kita.
Apakah ada kepentingan politik di balik gerakan anti-Syiah?
Kita tidak terhindarkan, pengaruh politik kuat sekali. Karena kita tidak pernah ada masalah isu suni-Syiah, 20 tahun atau 50 tahun lalu. Sekarang kenapa mengeras? Pengaruh politik memang besar sekali. Umat Islam harus punya kesadaran tinggi, untuk menjaga dan merawat keindonesiaan yang beragam. Jadi berislam juga tidak bisa dipisahkan dengan berindonesia. Karena hanya dengan tanah air yang penuh kedamaian, umat Islam bisa jalankan syariat dengan baik. Kita tidak perlu terpengaruh konflik di Timur Tengah dan belahan dunia lain.

0 Response to "Menteri Agama Angkat Bicara tentang Syiah"

Posting Komentar