Karet dan Curhatan Saya Kepada Pak Jokowi


"Karet dan Curhatan Saya Kepada Pak Jokowi"

Dion Ginanto*
Kandidat Ph.D, East Lansing, MI, United States

Pak Jokowi, saya mau curhat… Tapi saya takut saya akan dibully para pendukung Bapak. Padahal jika Bapak mendengar curhatan saya, pasti pak Jokowi tidak akan membuli saya. Karena saya tahu pak Jokowi itu adalah sosok yang baik, hanya saja terjebak pada posisi dan lingkungan yang tidak baik.

Tapi tidak apalah, untuk kali ini, kalaupun nantinya saya dibully saya akan terima saja.

Begini lho pak Jokowi:

1. Orangtua saya adalah petani karet, tetangga saya mayoritas petani karet, dan saya juga adalah seorang penyadap karet pak. Jadi saya tahu persis apa yang sedang dirasakan orang tua dan tetangga saya di desa. Pak Jokowi, harga karet di desa kami hancur pak… Rp. 4500. Sangat jauh dari harga karet di negara tetangga kita: Malaysia dan Thailand. Bahkan Pak Bupati Siantang sampai kebingungan tingkat dewa, mengapa di Kalbar harga karet Rp. 4.500, tapi di Malaysia dan Thailand bisa mencapai Rp. 15.000. Pak Jokowi, apakah pak Jokowi tidak merasa gusar, harga karet di negara yang Bapak pimpin sama sekali tidak bisa bersaing.

2. Pak Jokowi, saya bangga melihat pak Jokowi yang hampir setiap bulan meresmikan pembangunan, meletakkan batu pertama, atau menggunting pita proyek. Kami menunggu, dan menggu sekali, pak Jokowi akan meletakkan batu pertama pembangunan pabrik-pabrik karet di propinsi produsen karet, bahkan jika perlu tiap kabupaten pak. Karena jika ada pabrik tentulah akan menyerap tenaga kerja baru, dan tentunya harga karet kan naik drastis. Syukur-syukur kita punya pabrik yang memproduksi ban sendiri, sehingga nanti mungkin pak Jokowi bisa mewajibkan seluruh pabrik perakitan mobil harus memakai ban buatan Indonesia. Mungkin juga PT. PINDAD harus memakai produk karet Indonesia untuk membuat kendaraan tempur, dll. Nah yang paling memungkinkan pak, jika mobil ESEMKA masih ada, tentu mobil ESEMKA akan gagah sekali memakai roda asli dari karet Indonesia. Jika Bapak berani membuat tol laut, jika Bapak tak gentar membuat kereta cepat, tentulah membuat pabrik olahan karet tidaklah hal sulit bagi Bapak dan jajaran menteri Bapak.

3. Pak Jokowi, petani karet di Indonesia mencapai 16 juta jiwa (data kemenperin). Pak Jokowi, apakah pak Jokowi tega membiarkan para petani ini berubah statusnya menjadi warga miskin? Jika Bapak dan menteri-meteri Bapak tidak segera mengambil langkah berani, data BPS akhir tahun ini akan berevolusi sejadi-jadinya khususnya pada data keluarga miskin.

4. Pak Jokowi, saya ada mendengar penurunan harga karet ini, selain karna harga karet dunia sedang turun, adalah karena adanya kartel karet di Indonesia. Benar sekali pak kartel/mafia. Saya tidak tahu apakah mafia ini ada di sekliling pemerintahan, namun ini hampir sama bahayanya dengan kartel narkoba lho pak. Pak Jokowi, kami rakyak kecil menunggu keberanian Bapak mengungkap para kartel karet ini pak.Kalau perlu jika sudah ketemu mafianya, bagaiamana kalua kita jatuhin hukuman mati seperti halnya para mafia narkoba yang Bapak tembak mati ketika Bapak awal-awal menjadi presiden. Berani ya pak? Kalau bukan kepada Bapak, kepda siapa lagi kami curhat pak?

Terakhir, kami mendengar para petani sudah sering curhat ke Bapak Bupati, tapi Bapak Bupati menjawab isu harga karet ini bukan domainnya. Kami pun curhat ke pak Gubernur, lagi-lagi pak gubernur menjawab itu bukan domain beliau. Semoga dengan pak Jokowi ini, pak Jokowi tidak akan menjawab itu bukan domain Bapak. Kalaulah kami harus curhat ke Sekjen PBB, kami tentu tak akan tahu mekansime protokoler di sana pak.

Pak Jokowi, ayolah pak… kita citrakan harga karet ini di mata dunia, bahwa harga karet Indonesia ini tak kalah dari negara tetangga, Thailand dan Malaysia.[]

___
*Sumber: Tulisan (notes) Dion Ginanto di laman facebooknya (9/2/2016)
https://www.facebook.com/dion.ginanto/posts/10153914791641950

0 Response to " Karet dan Curhatan Saya Kepada Pak Jokowi "

Posting Komentar